Blusukan ke Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur






Pasar adalah tempat dimana terjadi transaksi jual beli antara pedagang dan pembeli. Pasar terbagi menjadi berbagai macam, salah satunya adalah pasar tradisional. Pernahkah diantara kalian yang berbelanja di pasar tradisional? Untuk  pemuda yang hidup di pedesaan pasti sering. Apalagi kalau bukan mengantar ibu ke pasar atau sekedar mencari kebutuhan sehari- hari.Tentunya hal ini sangat berbeda dengan pemuda yang hidup di perkotaan seperti Jakarta.

Di kesempatan kali ini saya akan memberikan gambaran tentang suasana dan kegiatan di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur. Kali ini saya sendiri yang berkunjung ke salah satu pasar tradisional teramai di Jakarta tersebut. Pada awalnya saya diajak  oleh teman pergi ke pasar untuk mencari sayur dan perabot rumah tangga. Tentu kesempatan ini tidak saya sia- siakan. Karena sudah lama tidak pergi  ke  pasar tradisional.

Saya berangkat dari Pasar Rebo ke Pasar Kramat Jati pada pukul 16.00. Tapi karena kondisi macet yang luar biasa kami tiba pada pukul 17.30. Padahal deket lho? Tentu yang sering lewat Jalan Raya Bogor tepatnya depan Pasar Kramat Jati, tidak heran lagi ddengan kondisi tersebut. Apalagi pada jam pulang kantor seperti saat saya ke sana.

Begitu tiba di  pasar kami pun harus disulitkan dengan parkiran motor yang  penuh dan berantakan. Wajar sih untuk pasar tradisional apalagi di Jakarta. Budaya tertib, rapi, dan sabar menunggu kayanya susah banget diterapin di kota megapolitan ini. Makanya jangan salahkan pemerintah saja. Tapi sebenarnya kita sendiri yang menjadi masalah dari akar masalahnya.

OK. Setelah selesai berkutik di tempat parkir. Kami langsung mencari barang yang kami cari. Pertama jeruk nipis, kemangi, sprei kasur, dan tempat cucian baju. Baru keluar dari tempat parkiran, kami langsung menukan jeruk nipis. Kemudin kami masuk ke banguna utama pasar. Begitu menjajakan kaki di lantai dasar. Lantai yang kotor dan sampah berserakan menyambut kami. Kebersihan kayanya menjadi faktor utama penyebab orang kota malas ke Pasar Tradisional.

Akhirnya, setelah masuk dan berkeliling mencari tempat cucian baju dan sprei ketemu juga sama pedagangnya. Cukup murah sih jika dibandingan dengan yang ada di Toko- toko atau Pasar Swalayan. Kami pun keluar untuk mencari kemangi. Tak butuh waktu lama bagi kami untuk mendapatkanya.

Suara adzan sudah berkumandang, saatnya bagi kami untuk membatalkan puasa. Masakan padang menjadi pilihan kami. Walaupun penjual masakan padangnya berjualan di gerobak dorong, tapi rasanya tidak kalah dengan masakan padang ala restoran sederhana hehe.

Akhirnya selesai juga blusukan kami di pasar Kramat Jati. Jadi kesimpulanya adalah sangat menyenangkan berbelanja di pasar tradisional. Begitu mudah mencari barang yang kita perlukan  dengan harga yang ekonomis. Kekuranganya adalah penataan tempat parkir, kebersihan pasar, dan kesadaran dari pedagang serta pengunjung pasar itu sendiri.

Jadi, bagaimana pendapat kalian mengenai pasar tradisional?

RIZKY ABDULLAH

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Iseng membawa untung

Opini : "Dana Aspirasi DPR"

Selamat dari tawuran antar anak sekolah (NON FIKSI)